Top
  >  Culinary   >  Bakso Kasmaran Dulu, Baru Kamu

Ada kalanya kita tidak membutuhkan makanan yang terlalu rumit. Cukup semangkuk bakso panas, kuah gurih, dan suasana yang nyaman, rasanya sudah bisa membuat hari sedikit lebih baik.

Apalagi kalau menyantapnya di Bandung yang udaranya sering kali membuat makanan berkuah terasa semakin menggoda.

Beberapa waktu lalu, saya mencoba salah satu tempat makan bakso yang namanya cukup menarik perhatian: Bakso Kasmaran.

Dari namanya saja sudah bikin penasaran. Bakso kok kasmaran?

Ternyata, konsep itu memang tidak berhenti pada nama. Begitu masuk, nuansa “kasmaran” cukup terasa dari berbagai sudut tempatnya. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah tulisan di dinding:

“Bakso Kasmaran Dulu, Baru Kamu.”

Sebuah kalimat yang mungkin bisa membuat orang tersenyum sebelum mulai makan.

Bukan Cuma Namanya yang Menarik

Tempatnya sendiri cukup nyaman. Interiornya didominasi nuansa yang hangat dengan perpaduan warna hijau dan cokelat.

Lampu-lampu berbahan rotan dan ornamen di bagian langit-langit membuat suasananya terasa santai. Bukan tipe tempat yang sekadar datang, makan, lalu pergi, tetapi cukup nyaman juga kalau ingin duduk sambil mengobrol bersama teman atau keluarga.

Setidaknya, sambil menunggu bakso datang, ada beberapa sudut yang membuat mata tidak hanya terpaku pada mangkuk kosong.

Dan tentu saja, tujuan utama datang ke sini tetap satu: Makan Bakso.

Dari beberapa pilihan menu yang tersedia, kali ini saya mencoba menu bakso yang disajikan cukup lengkap.

Dalam satu mangkuk ada mie, beberapa jenis dan ukuran bakso, sayuran, pangsit, serta berbagai pelengkap lainnya.

Begitu disajikan, kuahnya yang bening dan mengepul langsung membuat selera makan naik.

Baksonya juga terlihat cukup beragam. Ada yang ukurannya lebih besar, ada yang lebih kecil, sehingga dalam satu mangkuk tidak terasa monoton.

Saat kuahnya dicicipi, rasanya gurih tetapi tetap ringan. Bukan tipe kuah yang terlalu berat sehingga membuat enek setelah beberapa suapan.

Baksonya memiliki tekstur yang cukup pas dengan rasa daging yang masih terasa. Ketika disantap bersama mie dan sayuran, rasanya menjadi semakin lengkap.

Rasa segar dari jeruk limau memberikan sentuhan asam yang membuat kuah bakso terasa lebih hidup.

Taburan bawang goreng dan daun bawang juga ikut memperkuat aroma dan rasa.

Sementara pangsit memberikan tekstur yang berbeda di tengah semangkuk bakso dan mie yang cenderung lembut.

Buat saya, ini adalah tipe bakso yang tidak membutuhkan terlalu banyak “ritual”.

Tidak perlu mencampurkan terlalu banyak saus, kecap, atau sambal untuk membuatnya terasa nikmat. Kuahnya sendiri sudah cukup memberikan rasa gurih yang pas.

Setelah Bakso, Saatnya yang Dingin-Dingin

Kalau sudah makan makanan berkuah dan gurih, biasanya ada satu hal yang dicari: sesuatu yang dingin.

Karena itu, saya mencoba Es Campur sebagai penutup.

Tampilannya cukup menarik dengan berbagai isian warna-warni. Ada alpukat, nangka, cincau, agar-agar, serutan es, dan pelengkap lainnya.

Kalau bakso memberikan rasa hangat dan gurih, Es Campur memberikan kebalikannya.

Dingin, manis, dan menyegarkan.

Satu hal yang menarik dari Bakso Kasmaran adalah konsepnya.

Namanya memang “Kasmaran”, tetapi menurut saya tidak berarti tempat ini hanya cocok untuk orang yang sedang jatuh cinta.

Datang bersama teman tetap seru.

Datang bersama keluarga juga nyaman.

Bahkan datang sendirian hanya untuk mencari semangkuk bakso hangat pun tidak masalah.

Justru nama dan konsep “kasmaran” tersebut membuat tempat ini terasa lebih playful. Ada karakter yang membedakannya dari tempat makan bakso pada umumnya.

Setidaknya, pengalaman makannya tidak hanya soal rasa makanan, tetapi juga suasana yang dibangun di sekitarnya.