Ada kalanya kita datang ke sebuah tempat makan bukan karena lapar, tapi karena suasananya sudah telanjur akrab.
Di lingkungan UPI Cibiru, salah satu tempat seperti itu buat saya adalah Warung Bu Ai.
Saya lebih sering menyebutnya Warung Ma Ai. Kadang, iseng, saya baca jadi warung Ma (e Ai).
Maklum, di tengah ramainya istilah Artificial Intelligence alias AI belakangan ini, nama warung ini jadi terdengar punya asosiasi yang lucu.
Warung ini sudah ada sejak lama, bahkan sebelum Artificial Intelligence (AI) seramai sekarang, dan masih bertahan sampai hari ini.
Dari luar, tampilannya sederhana seperti warung makan pada umumnya.
Ada tempat duduk di bawah atap, meja makan, dan area terbuka yang dekat dengan pepohonan serta parkiran.
Sebuah warung kecil, tapi tamunya datang dari berbagai sudut kehidupan kampus.
Salah satu yang langsung terlihat di Warung Ma Ai adalah pilihan makanannya yang lumayan beragam.

Di etalase tersedia berbagai lauk pauk, makanan pendamping, gorengan, sampai camilan ringan. Ada yang cocok buat makan pakai nasi, ada juga jajanan yang pas kalau cuma mau ganjal perut.
Suasananya akrab buat siapa pun yang pernah makan di warung kampus: lihat pilihan lauk, tentukan, lalu cari tempat duduk. Tidak perlu banyak ritual.
Yang menarik, menunya juga fleksibel. Mau nasi goreng? Bisa ditanyakan. Ingin jus? Bisa. Mau sambal versi lain? Silakan bilang.
Buat saya, bagian paling menarik dari Warung Ma Ai justru bukan menunya, tapi obrolan yang muncul di meja makan.
Suasana yang terlihat. Ada mahasiswa yang makan sambil ngomongin tugas. Ada yang diskusi soal kegiatan himpunan. Di meja lain, bisa saja muncul obrolan soal pekerjaan atau rencana kegiatan.



Tidak semua ide besar lahir di ruang rapat. Kadang gagasan awal justru muncul dari obrolan santai sambil makan. Begitu pun untuk Dosen, Warung ini bisa jadi tempat bertukar cerita soal penelitian sampai kegiatan Pengabdian. Bedanya, obrolannya berlangsung dengan suasana yang lebih cair dicampur cerita keseharian. Satu meja bisa cuma berisi makanan. Tapi percakapan di atasnya bisa ke mana-mana.
Kalau dipikir-pikir, sudah banyak sekali perubahan yang terjadi di UPI Cibiru. Pimpinan silih berganti. Gedung-gedung perkuliahan terus berkembang, sementara mahasiswa baru datang, mahasiswa akhir menjadi alumni. Namun, di tengah berbagai perubahan itu, Warung Ma Ai tetap eksis, menjadi bagian dari keseharian kampus dan menemani perjalanan banyak mahasiswa dari waktu ke waktu.
Warung Ma Ai mengingatkan saya bahwa pengalaman makan tidak selalu ditentukan oleh mewahnya tempat atau banyaknya menu.
Ada warung yang kita ingat karena makanannya. Ada juga warung yang kita kenang karena cerita yang pernah kita tinggalkan di sana. Dan buat saya, Warung Ma Ai UPI Cibiru termasuk yang kedua.
