Ada kalanya kita sudah punya niat untuk mencoba sebuah tempat makan, tetapi selalu saja ada halangan. Saya mengalaminya ketika beberapa kali ingin mampir ke Bakso Bintang Asia di Jalan Sabang, tepatnya depan pintu masuk Pasar Cihapit kota Bandung.
Bukan karena tidak penasaran. Justru sudah beberapa kali lewat dan berniat untuk makan di sana. Masalahnya sederhana, tetapi cukup bikin mengurungkan niat karena tidak kebagian parkir mobil.
Akhirnya setiap kali lewat, hanya bisa melihat dari luar dan berkata dalam hati, “Nanti saja kalau ada tempat parkir.”
Sampai akhirnya baru kali ini kesempatan itu datang. Ada tempat untuk parkir dan saya pun akhirnya bisa masuk dan mulai menjajaki kuliner Bakso Bintang Asia.
Ternyata tempatnya cukup ramai. Dari luar mungkin terlihat seperti kedai bakso biasa, tetapi begitu masuk, suasananya terasa cukup khas.
Interior Bakso Bintang Asia memang tidak dibuat seperti restoran kekinian yang penuh dekorasi. Meja dan kursi yang digunakan cukup sederhana, sebagian menggunakan meja stainless dengan kursi lipat.
Namun justru suasana seperti ini yang membuatnya terasa seperti tempat makan yang sudah lama menjadi bagian dari kawasan kuliner Bandung.
Di bagian dalam juga terlihat area dapur yang cukup terbuka. Aktivitas para pegawai menyiapkan makanan bisa terlihat langsung dari area pengunjung.

Ada kesan seperti rumah makan atau kedai yang memang fokus utamanya adalah makanan, bukan dekorasi.
Dan mungkin itu yang membuat tempat ini terasa nyaman. Datang, duduk, pesan makanan, lalu menikmati hidangan.
Karena baru pertama kali makan di sini, saya memilih Mie Bakso.
Kalau melihat tampilannya, sebenarnya cukup sederhana. Semangkuk kuah bening berisi beberapa bakso, mi putih, serta potongan daging.
Tetapi justru kuahnya yang membuat pengalaman makan di sini terasa sedikit berbeda.
Kuahnya ringan dan tidak terlalu berat. Ada karakter rasa yang mengingatkan pada kuah Pho, sehingga rasanya tidak sama dengan bakso yang biasa saya temui di tempat lain.
Mi putihnya juga cukup menarik. Teksturnya lembut dan berpadu dengan kuah yang ringan.
Baksonya sendiri tetap memberikan rasa yang familiar. Jadi meskipun konsep kuahnya membawa pengaruh kuliner Asia, ketika menyantap baksonya tetap terasa seperti sedang menikmati semangkuk bakso.
Buat saya, perpaduan ini cukup menarik.

Selain Mie Bakso, saya juga mencoba Bakpao.
Bakpaonya berukuran cukup besar dengan tampilan yang sederhana. Bagian luarnya berwarna putih dan teksturnya lembut.
Menurut saya, bakpao ini cukup pas dijadikan teman makan atau camilan setelah menyantap bakso. Teksturnya lembut dan tidak terasa terlalu berat.

Saya memang datang dengan tujuan utama mencoba baksonya, tetapi ternyata pilihan menu di Bakso Bintang Asia cukup banyak.
Di papan menu terlihat ada berbagai pilihan makanan lain seperti nasi daging bakar telur, kwetiau goreng telur, singkong cabe garam, roti bakar, bakso goreng, hingga aneka siomay dan jajanan lainnya.
Jadi kalau datang bersama teman atau keluarga, sebenarnya bisa mencoba beberapa menu sekaligus.
Di Bandung, mencari bakso tentu bukan perkara sulit.
Hampir di berbagai sudut kota kita bisa menemukan tempat yang menjual bakso, tetapi Bakso Bintang Asia mencoba mengambil jalur yang sedikit berbeda.
Kuah baksonya terinspirasi dari Pho Vietnam, sementara beberapa menu lainnya membawa sentuhan kuliner dari negara-negara Asia. Hasilnya bukan sesuatu yang benar-benar asing. Justru makanan yang kita kenal sehari-hari dibuat dengan pendekatan yang berbeda.
Dan menurut saya, konsep seperti ini yang membuat orang penasaran untuk datang.
Kalau sedang berada di kawasan Jalan Sabang dan ingin mencoba bakso dengan nuansa yang sedikit berbeda, Bakso Bintang Asia bisa menjadi salah satu pilihan.
Ada rasa puas tersendiri karena akhirnya bisa juga mencoba tempat yang beberapa kali sebelumnya hanya dilewati karena tidak kebagian parkir.
Kadang memang begitu kalau mencari kuliner di Bandung. Bukan soal tidak ada tempat makan, tetapi justru terlalu banyak pilihan dan beberapa tempat punya peminat yang cukup ramai.
Dan bagi saya, yang sebelumnya sudah beberapa kali berniat tetapi selalu gagal karena urusan parkir, akhirnya bisa duduk dan makan di sini terasa seperti menyelesaikan satu rasa penasaran yang sempat tertunda.

