Hari pertama mengikuti Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Bali, menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Sebagai salah satu delegasi dari Kampus UPI di Cibiru, saya berkesempatan mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus bertemu dengan akademisi dan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.
KONASPI XII 2026 digagas dan diselenggarakan oleh Forum Rektor Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (LPTKNI), dengan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sebagai tuan rumah. Konvensi ini menjadi ruang untuk membahas berbagai persoalan dan arah transformasi pendidikan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang berlangsung cukup meriah, mewah dan tertata. Para pimpinan perguruan tinggi, akademisi, dan peserta dari berbagai daerah hadir dan pakaian daerahnya masing-masing dalam suasana yang cukup hangat.
Rektor Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., menyampaikan bahwa KONASPI XII diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan langkah sekaligus menjadi kompas kebijakan strategis dalam melakukan transformasi pendidikan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Bagi saya, istilah “kompas” tersebut cukup menarik. Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, perkembangan artificial intelligence, perubahan kebutuhan industri, dan berbagai persoalan pendidikan yang semakin kompleks, perguruan tinggi tidak hanya perlu bergerak cepat, tetapi juga perlu memiliki arah yang jelas.
Dari berbagai sesi yang saya ikuti pada hari pertama, ada beberapa gagasan yang menurut saya cukup relevan untuk menjadi bahan refleksi bagi perguruan tinggi.
Salah satu pesan yang cukup kuat datang dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.

Beliau mengingatkan bahwa perguruan tinggi perlu mulai menggeser orientasi dari sekadar output menuju outcome.
Selama ini kita sangat terbiasa berbicara tentang jumlah lulusan, jumlah skripsi, tesis, publikasi, penelitian, dan berbagai capaian lainnya. Semua itu tentu penting. Namun, pertanyaan berikutnya adalah apa yang terjadi setelah semua itu dihasilkan.
Apakah penelitian benar-benar digunakan?
Apakah inovasi mampu menjawab persoalan masyarakat?
Apakah lulusan mampu memberikan kontribusi di dunia kerja dan lingkungan sosialnya?
Apakah keberadaan perguruan tinggi benar-benar memberikan dampak bagi daerah?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi. Kampus juga perlu menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Riset tidak berhenti pada laporan. Inovasi tidak berhenti pada prototipe. Pengabdian tidak berhenti pada dokumentasi kegiatan. Dan pendidikan tidak berhenti ketika mahasiswa menerima ijazah.
Pada akhirnya, semua itu perlu memberikan dampak.
Pesan lain yang cukup menarik perhatian adalah ajakan untuk tidak terus memperbanyak program studi. Perguruan tinggi justru didorong untuk melihat kembali program studi yang memiliki rumpun keilmuan berdekatan dan membuka kemungkinan penggabungan agar pengelolaan perguruan tinggi menjadi lebih sederhana dan efisien.
Bagi saya yang sehari-hari berada di lingkungan pendidikan tinggi dan ikut dalam pengelolaan program studi, gagasan ini tentu menarik untuk direnungkan.
Dunia berkembang semakin lintas disiplin. Persoalan yang dihadapi masyarakat juga tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan satu bidang ilmu.
Ketika kita berbicara tentang artificial intelligence, misalnya, persoalannya bukan hanya tentang kemampuan membuat sistem. Di dalamnya ada matematika, statistika, ilmu komputer, etika, bisnis, pendidikan, hukum, bahkan aspek sosial.
Karena itu, ke depan mungkin kita perlu lebih banyak berbicara tentang kolaborasi keilmuan daripada sekadar batas administratif antarprogram studi.
Hal lain yang juga terasa relevan adalah pesan mengenai pentingnya memperkuat hard science dan ilmu-ilmu fundamental di tengah perkembangan artificial intelligence dan superintelligence.
Teknologi berkembang sangat cepat. Hari ini kita berbicara tentang generative AI, kemudian agentic AI, dan ke depan akan muncul berbagai teknologi baru yang mungkin belum kita bayangkan.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Mahasiswa tetap membutuhkan fondasi berpikir yang kuat, kemampuan memahami prinsip dasar ilmu pengetahuan, berpikir logis, melakukan analisis, dan memecahkan masalah.
Bagi saya, ini menjadi refleksi tersendiri sebagai bagian dari perguruan tinggi yang bergerak di bidang teknologi.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah mahasiswa kita bisa menggunakan AI. Pertanyaannya adalah apakah mereka mampu menggunakan AI untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja, mengkritisinya, dan pada akhirnya menciptakan solusi baru.
Pembahasan tentang keterhubungan lulusan dengan industri juga menjadi bagian penting dalam forum ini.
Perguruan tinggi tentu tidak bisa berjalan dalam ruang yang terpisah dari dunia kerja. Kurikulum harus terus berdialog dengan perkembangan industri, kebutuhan masyarakat, dan perubahan teknologi.
Apa kompetensi yang dibutuhkan industri? Apa persoalan yang sedang dihadapi masyarakat? Teknologi apa yang sedang berkembang? Dan apakah lulusan kita siap menghadapi perubahan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting untuk terus kita bawa ke dalam proses pendidikan di kampus.
Di sisi lain, perspektif pendidikan dasar dan menengah juga menjadi bagian yang menarik dalam KONASPI XII. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang terintegrasi antara pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi.

Peningkatan kualitas guru, penguatan peran LPTK, pendidikan karakter, bimbingan konseling yang lebih humanis, hingga pembelajaran mendalam atau deep learning menjadi bagian dari gagasan yang dibicarakan.
Dari sini saya semakin melihat bahwa transformasi pendidikan memang tidak mungkin dikerjakan oleh satu pihak.
Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Guru tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah, industri, masyarakat, dan para akademisi juga tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.
Pendidikan adalah sebuah ekosistem.
Ketika satu bagian berubah, bagian lainnya harus ikut beradaptasi.
Setelah seharian mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, suasana pada malam hari berubah menjadi lebih santai. Para peserta berkumpul dalam jamuan makan yang disiapkan oleh panitia. Sajian makanan yang beragam dan kudapan yang enak menjadi pelengkap setelah mengikuti agenda konferensi sepanjang hari.
Live music juga turut mengisi suasana malam. Hiburan yang disiapkan panitia cukup membuat suasana menjadi lebih cair. Peserta yang sepanjang hari lebih banyak berada dalam suasana konferensi akhirnya bisa berbincang dengan lebih santai, bertemu rekan-rekan dari perguruan tinggi lain, dan saling bertukar cerita.



Bagi saya, bagian seperti ini juga menarik. Konferensi bukan hanya tentang materi yang disampaikan di ruang utama. Interaksi informal dengan sesama peserta sering kali justru membuka percakapan dan perspektif baru.
Sebagai delegasi dari Kampus UPI di Cibiru, saya merasa senang bisa hadir di forum ini. Ada banyak perspektif, pengalaman, dan gagasan yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan. Tidak semuanya harus langsung diterapkan, tetapi setidaknya memberikan bahan untuk melihat kembali apa yang sudah kita lakukan di kampus dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Dari Kampus UPI di Cibiru, saya datang ke Nusa Dua membawa pengalaman tentang pendidikan tinggi dan berbagai pertanyaan tentang bagaimana pendidikan berbasis teknologi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Setelah mengikuti hari pertama KONASPI XII, saya justru pulang dengan semakin banyak pertanyaan.
Apakah penelitian kita sudah memberikan dampak?
Apakah pembelajaran kita sudah menjawab kebutuhan zaman?
Apakah lulusan kita benar-benar siap menghadapi dunia kerja?
Apakah mahasiswa kita memiliki fondasi ilmu yang cukup kuat untuk menghadapi perkembangan AI?
Dan yang tidak kalah penting, apakah perguruan tinggi kita sudah benar-benar menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tidak bisa dijawab hanya dalam satu hari.
Semoga semakin banyak gagasan yang bisa dibawa pulang dari Bali. Bukan hanya menjadi catatan perjalanan, tetapi bisa menjadi inspirasi untuk melakukan sesuatu yang lebih baik di kampus, di masyarakat, dan untuk Indonesia.
Day 1 KONASPI XII 2026.

