Hari Kedua KONASPI XII: Jas Merah UPI dan Estafet Menuju Bandung 2028
Hari kedua Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII di Bali terasa berbeda. Setelah rangkaian pembukaan dan berbagai agenda pada hari pertama, suasana pagi di hari kedua mulai dipenuhi peserta yang kembali berkumpul untuk mengikuti rangkaian sesi konvensi. Di tengah banyaknya perguruan tinggi yang hadir dengan identitas masing-masing, ada satu pemandangan yang cukup menarik perhatian: rombongan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tampil kompak dengan jas merahnya.
Warna merah yang dikenakan bersama membuat rombongan UPI mudah dikenali di tengah peserta KONASPI dari berbagai perguruan tinggi. Lebih dari sekadar pakaian, ada rasa kebersamaan yang muncul ketika para dosen dan pimpinan UPI berada dalam satu forum nasional. Masing-masing datang membawa tugas dan peran dari unitnya, tetapi di forum ini semuanya kembali menjadi bagian dari keluarga besar UPI.


Hari kedua KONASPI XII sendiri diisi dengan berbagai pembahasan mengenai masa depan pendidikan Indonesia. Agenda dimulai dengan tema pendidikan digital dan kecerdasan artifisial untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh di era Revolusi Industri 5.0. Pembahasan kemudian berlanjut pada pendidikan inklusif dan kurikulum transformatif, revitalisasi peran guru, pendidikan berkelanjutan, hingga sinergi tri pusat pendidikan.
Salah satu sesi yang menarik adalah ketika Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., hadir dalam pembahasan mengenai sinergi tri pusat pendidikan, yaitu kolaborasi sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter generasi Pancasila. Kehadiran Rektor UPI dalam forum tersebut menjadi bagian dari percakapan besar tentang bagaimana pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan perguruan tinggi, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
Di sela-sela agenda yang cukup padat, tentu ada momen-momen sederhana yang justru menjadi bagian paling menyenangkan dari sebuah perjalanan. Bertemu kolega, berbincang dengan teman dari kampus lain, berfoto bersama, atau sekadar saling menyapa setelah lama tidak bertemu. Dan di antara momen-momen itu, jas merah UPI seolah menjadi penanda kebersamaan.
Mungkin memang begitulah salah satu makna hadir dalam sebuah forum nasional. Kita datang membawa nama dan identitas perguruan tinggi masing-masing, tetapi kemudian dipertemukan oleh kegelisahan dan harapan yang sama tentang pendidikan Indonesia.
Salah satu momen penting pada hari ke-2 ini adalah penyerahan bendera KONASPI kepada tuan rumah berikutnya. Prosesi tersebut menjadi simbol estafet penyelenggaraan KONASPI dari Universitas Pendidikan Ganesha kepada tuan rumah berikutnya.
Dan untuk KONASPI berikutnya, estafet itu akan menuju Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2028.
Mendengar kabar bahwa KONASPI selanjutnya akan digelar di UPI tentu memberikan perasaan yang berbeda. Jika kali ini UPI datang sebagai peserta dan ikut merasakan suasana KONASPI di Bali, dua tahun mendatang UPI akan berada di posisi yang berbeda: Menjadi tuan rumah.
Bandung akan menjadi tempat bertemunya kembali para insan pendidikan dari berbagai penjuru Indonesia. UPI akan memiliki kesempatan untuk menghadirkan suasana, gagasan, dan pengalaman yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai salah satu perguruan tinggi pendidikan di Indonesia.



Ada waktu dua tahun untuk mempersiapkan semuanya.
2026 Bali menjadi tempat kami bertemu.
Dan Bandung akan menjadi tempat kita bertemu kembali.

