Top
  >  Blog   >  Memaknai Surat Yunus Ayat 12: Ketika Sakit Membuat Kita Lebih Dekat kepada Allah

Hari ini saya kembali berada di rumah sakit.

Kali ini bukan sebagai pasien, melainkan sebagai orang yang bertugas menjaga ibu. Beliau sedang menjalani tindakan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung. Saya duduk menunggu, memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang, mendengar suara roda tempat tidur yang didorong melewati lorong, melihat keluarga yang datang silih berganti, dan menyaksikan pasien yang terbaring dengan berbagai kondisi.

Entah mengapa, suasana seperti ini selalu membawa saya kembali pada sebuah masa yang pernah saya lalui.

Masa ketika saya datang sebagai pasien.

Dulu saya pernah terbaring di salah satu kamar rawat inap. Tubuh saya tidak dalam kondisi baik. Rasa sakit datang berkali-kali, kadang perlahan, kadang begitu kuat sampai membuat saya hanya bisa meringis dan memejamkan mata. Ada saat-saat ketika saya hanya bisa menunggu obat bekerja dan berharap rasa sakit itu segera mereda.

Di tempat seperti itu, waktu terasa berjalan berbeda.

Beberapa menit bisa terasa begitu lama.

Malam terasa panjang.

Dan ketika rasa sakit datang, yang bisa dilakukan hanya berusaha menahannya sambil berdoa.

“Ya Allah, sembuhkan saya.”

“Ya Allah, hilangkan rasa sakit ini.”

“Ya Allah, berikan saya kekuatan.”

Doa-doa itu terus berulang. Kadang hanya di dalam hati. Kadang terucap lirih. Kadang begitu panjang, bahkan saya sendiri tidak tahu berapa kali saya mengulangnya.

Kalau saya mencoba mengingat kembali masa itu, saya seperti menemukan sebuah kenyataan yang agak menampar diri sendiri.

Mungkin secara kuantitas, doa saya ketika berada di rumah sakit jauh lebih banyak daripada ketika berada di masjid.

Ironis memang.

Ketika tubuh sehat, kita bisa berlama-lama memikirkan pekerjaan, uang, keluarga, perjalanan, urusan dunia, bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi ketika tubuh sakit, semua itu seperti kehilangan prioritas.

Yang tersisa hanya satu keinginan sederhana:

Sembuh.

Dan dalam keadaan seperti itu, kita baru benar-benar merasakan betapa lemahnya manusia.

Hari ini, ketika saya kembali duduk di rumah sakit, suasananya ternyata tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah saya rasakan dahulu.

Kamar-kamar pasien berjejer. Ada yang terbaring dengan wajah penuh kecemasan. Ada keluarga yang duduk menunggu dengan mata yang sesekali tertuju pada pintu kamar. Ada suara perawat yang datang memeriksa kondisi pasien. Ada pula pasien yang hanya bisa berbaring, menunggu tubuhnya kembali memiliki kesehatan.

Di rumah sakit, saya juga kembali teringat satu suara yang dulu begitu familiar.

Panggilan “Code Blue”

Bagi orang yang tidak terbiasa berada di lingkungan rumah sakit, mungkin itu hanya istilah medis yang terdengar asing. Tetapi bagi pasien dan keluarga yang sedang menjalani hari-hari di rumah sakit, panggilan itu memiliki suasana tersendiri.

Dan entah kenapa, dalam ingatan saya sebagai pasien, hampir selalu ada cerita yang mengikuti panggilan itu.

Tangisan.

Kadang terdengar dari salah satu sudut lorong.

Kadang keluarga keluar dari ruangan dengan wajah yang sudah tidak mampu menyembunyikan kesedihan.

Kadang suasana rumah sakit yang sebelumnya penuh percakapan tiba-tiba terasa hening.

Saat menjadi pasien, saya melihat semua itu dengan perasaan yang berbeda. Kita sedang sama-sama sakit, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana akhir dari perjuangan orang lain.

Ada yang datang untuk berobat lalu pulang dengan membawa kesembuhan.

Ada yang harus menjalani tindakan lebih lama.

Ada yang keluarganya pulang membawa kabar baik.

Ada pula yang akhirnya pulang dengan membawa kehilangan.

Rumah sakit seperti mengajarkan kepada kita bahwa hidup dan mati ternyata begitu dekat.

Kita bisa saja berada di satu kamar, berdoa agar segera sembuh, sementara beberapa meter dari tempat kita ada keluarga lain yang sedang berdoa dengan permintaan yang jauh lebih berat.

Dan ketika berada dalam suasana seperti itu, saya semakin memahami mengapa ketika sakit doa terasa begitu dekat.

Ketika tubuh tidak berdaya, kita akhirnya sadar bahwa banyak hal dalam hidup sebenarnya berada di luar kendali kita.

Dokter bisa berusaha.

Obat bisa diberikan.

Teknologi medis bisa digunakan.

Keluarga bisa mendampingi.

Tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

Barangkali karena itulah, ketika menjadi pasien dahulu, saya merasa doa adalah satu-satunya tempat untuk meletakkan harapan ketika kemampuan tubuh sudah berada di batasnya.

Saya berdoa setiap kali rasa sakit datang.

Saya berdoa sebelum tidur.

Saya berdoa ketika terbangun.

Saya berdoa ketika menunggu dokter.

Saya berdoa ketika menunggu hasil pemeriksaan.

Saya berdoa ketika mendengar pasien lain menangis.

Bahkan mungkin pada saat itu saya lebih banyak mengingat Allah dibandingkan hari-hari ketika saya sehat.

Lalu ketika kesehatan perlahan kembali, kehidupan juga kembali normal.

Saya kembali bekerja.

Kembali menjalankan aktivitas.

Kembali bertemu banyak orang.

Kembali memiliki kesibukan.

Dan perlahan, doa-doa yang dulu begitu sering terucap mulai kembali berkurang.

Di sinilah saya kemudian menemukan sebuah ayat yang terasa begitu dekat dengan pengalaman tersebut, yaitu Surat Yunus ayat 12.

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas, apa yang mereka kerjakan.”

(QS. Yunus: 12)

Ayat ini terasa begitu dekat dengan pengalaman saya sebagai pasien.

Allah menggambarkan manusia yang ketika ditimpa kesusahan akan berdoa dalam keadaan berbaring, duduk, bahkan berdiri. Tetapi ketika kesusahannya telah dihilangkan, ia berlalu seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesusahan itu.

Ketika pertama kali benar-benar merenungkan ayat ini, saya merasa seperti sedang bercermin.

Ternyata yang digambarkan dalam ayat itu bukan sekadar “manusia” dalam pengertian yang jauh dari diri kita.

Itu bisa jadi saya.

Bisa jadi kita.

Saat sakit, kita begitu dekat kepada Allah.

Saat sehat, kita kembali sibuk dengan dunia.

Saat takut kehilangan, kita rajin berdoa.

Saat semuanya kembali aman, kita lupa bahwa keamanan itu juga pemberian Allah.

Saat terbaring tidak berdaya, kita berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik.

Tetapi ketika sudah bisa berdiri dan berjalan kembali, janji itu perlahan terlupakan.

Sakit ternyata tidak hanya menguji tubuh.

Sakit menguji hubungan kita dengan Allah.

Dan mungkin yang lebih berat adalah ujian setelah sakit.

Sebab ketika sakit, kita tahu bahwa kita sedang diuji.

Tetapi ketika sehat, kita sering lupa bahwa kita juga sedang diuji.

Sakit mengajarkan sabar.

Sehat mengajarkan syukur.

Kesulitan mengajarkan tawakal.

Kemudahan menguji apakah kita tetap ingat kepada Allah.

Ada satu hal lain yang saya pelajari ketika menjadi pasien.

Sakit membuat kita tahu siapa orang-orang yang benar-benar ada untuk kita.

Ketika sehat, rasanya kita punya banyak teman. Kita bisa bercanda bersama, pergi bersama, makan bersama, berdiskusi tentang banyak hal. Tetapi ketika kita terbaring di rumah sakit, lingkaran itu tiba-tiba terasa mengecil.

Tidak semua orang datang.

Tidak semua orang bertanya.

Tidak semua orang tahu bagaimana rasanya menemani seseorang yang sedang sakit.

Tetapi dari situ kita justru belajar mengenali orang-orang yang benar-benar tulus.

Ada keluarga yang rela meninggalkan kesibukannya untuk duduk di samping tempat tidur.

Ada teman yang tiba-tiba datang hanya untuk memastikan kita baik-baik saja.

Ada yang mengirim pesan sederhana, “Bagaimana sekarang?”

Ada yang tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat kita merasa tidak sendirian.

Dan ada pula orang yang mungkin tidak bisa datang, tetapi terus mendoakan dari jauh.

Bagi orang yang sedang sehat, perhatian seperti itu mungkin terlihat sederhana.

Tetapi bagi orang yang sedang sakit, perhatian kecil bisa terasa sangat besar.

Karena ketika tubuh sedang lemah, jiwa pun bisa ikut melemah.

Ada masa ketika kita tidak lagi membutuhkan nasihat panjang.

Kita hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

“Tenang, kamu tidak sendirian.”

Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi tenaga yang luar biasa.

Sebab ada fase dalam sakit ketika yang lumpuh bukan hanya tubuh.

Harapan pun bisa ikut lumpuh.

Dan pada saat itulah kita baru benar-benar memahami arti kehadiran seseorang.

Saya masih ingat bagaimana rasanya ketika menjadi pasien. Ada waktu-waktu ketika saya hanya bisa berbaring dan menunggu.

Menunggu obat bekerja.

Menunggu dokter datang.

Menunggu rasa sakit berkurang.

Menunggu tubuh kembali memiliki tenaga.

Dalam kondisi seperti itu, kita seperti kehilangan banyak kendali atas kehidupan sendiri.

Mau bergerak sulit.

Mau bekerja tidak bisa.

Mau melakukan aktivitas seperti biasa tidak mampu.

Pada akhirnya kita hanya bisa menerima keadaan dan berdoa.

Mungkin itulah salah satu cara Allah membuat manusia kembali mengenali dirinya sendiri.

Bahwa sehebat apa pun kita merasa ketika sehat, ternyata kita bisa menjadi begitu lemah ketika sakit.

Bahwa sebanyak apa pun harta yang kita miliki, ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Bahwa sebanyak apa pun kesibukan kita, ada saatnya tubuh memaksa kita berhenti.

Dan bahwa sehebat apa pun kemampuan manusia, pada akhirnya kita tetap membutuhkan Allah.

Hari ini, ketika saya duduk menjaga ibu, saya seperti melihat kembali diri saya yang dulu.

Sekarang saya yang berdoa untuk kesembuhan orang yang saya cintai.

Hari ini kita yang menjaga.

Besok mungkin kita yang dijaga.

Hari ini kita yang sehat.

Suatu hari mungkin kita yang membutuhkan bantuan.

Hari ini kita menguatkan orang lain.

Suatu saat mungkin kita sendiri yang membutuhkan seseorang untuk menguatkan.

Karena itu, rumah sakit bagi saya bukan hanya tempat untuk mencari kesembuhan.

Ia adalah tempat belajar.

Belajar tentang kehidupan.

Belajar tentang kematian.

Belajar tentang keluarga.

Belajar tentang persahabatan.

Belajar tentang kesabaran.

Dan yang paling penting, belajar tentang hubungan kita dengan Allah.

Saya kemudian berpikir, mungkin selama ini kita terlalu sering meminta Allah memberikan kesehatan, tetapi setelah kesehatan diberikan kita lupa menggunakannya untuk mendekat kepada-Nya.

Kita pernah meminta umur panjang, tetapi ketika umur itu diberikan, waktu kita habiskan untuk hal-hal yang tidak selalu bermakna.

Kita pernah meminta kesembuhan, tetapi ketika sembuh kita kembali kepada kebiasaan lama.

Kita pernah meminta jalan keluar dari kesulitan, tetapi setelah keluar kita lupa siapa yang memberikan jalan.

Padahal boleh jadi, kesembuhan adalah jawaban dari doa yang pernah kita panjatkan.

Kesehatan yang kita nikmati hari ini mungkin adalah sesuatu yang dulu pernah kita minta sambil menangis.

Dan kesempatan untuk bangun setiap pagi mungkin adalah nikmat yang terlalu sering kita anggap biasa.

Karena itu, mungkin pesan Surat Yunus ayat 12 bagi saya hari ini bukan sekadar tentang manusia yang lupa setelah kesusahannya dihilangkan.

Ayat itu seperti teguran lembut kepada diri sendiri.

Jangan hanya mencari Allah ketika sedang sakit.

Jangan hanya mengingat Allah ketika sedang takut.

Jangan hanya bersujud dengan sungguh-sungguh ketika hidup sedang berada di ujung kesulitan.

Belajarlah mengingat Allah ketika sehat.

Belajarlah bersyukur ketika hidup sedang baik.

Belajarlah tetap berdoa ketika tidak ada yang sedang kita minta.

Sebab bisa jadi, doa terbaik bukan hanya doa ketika kita membutuhkan sesuatu.

Tetapi doa yang lahir dari kesadaran bahwa tanpa Allah, bahkan kemampuan kita untuk berdoa pun tidak akan pernah ada.

Hari ini saya duduk di rumah sakit menemani ibu.

Di sekitar saya ada pasien-pasien yang sedang berjuang.

Ada keluarga yang menunggu.

Ada dokter dan perawat yang bekerja.

Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam diam.

Dan mungkin di ruangan-ruangan itu, ada orang-orang yang sedang membuat janji kepada Allah agar setelah sembuh nanti mereka akan menjadi manusia yang lebih baik.

Semoga mereka sembuh.

Semoga ibu saya diberikan kemudahan.

Semoga semua pasien diberikan kesehatan.

Dan semoga ketika nanti kita kembali keluar dari rumah sakit, berjalan dengan tubuh yang lebih sehat, kita tidak melupakan doa-doa yang pernah kita panjatkan ketika terbaring lemah.

Sebab jangan sampai kita hanya mengenal Allah ketika sakit, lalu melupakan-Nya ketika sehat.

Jangan sampai air mata yang jatuh di atas ranjang rumah sakit hanya menjadi kenangan setelah kesembuhan datang.

Dan jangan sampai orang-orang yang pernah menggenggam tangan kita ketika sedang lemah justru kita lupakan ketika kita sudah kembali kuat.

Mungkin pada akhirnya, sakit bukan hanya tentang bagaimana kita kembali sehat.

Sakit adalah tentang bagaimana kita berubah setelah diberi kesempatan untuk sehat kembali.

Karena boleh jadi, kesembuhan adalah kesempatan kedua.

Kesempatan untuk lebih bersyukur.

Kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah.

Kesempatan untuk lebih menghargai keluarga.

Kesempatan untuk mengenali siapa yang benar-benar tulus.

Dan kesempatan untuk menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap napas yang masih kita miliki adalah nikmat yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.

Dulu, ketika menjadi pasien, saya berdoa agar bisa kembali sehat.

Hari ini, ketika sudah sehat dan berada di sisi ibu sebagai orang yang menemani, saya justru kembali berdoa.

Bukan hanya agar ibu diberikan kesembuhan.

Tetapi juga agar saya tidak menjadi manusia yang hanya pandai berdoa ketika sedang kesusahan.

Semoga Allah menjaga hati ini agar tetap dekat kepada-Nya, baik ketika sakit maupun ketika sehat.

Karena ternyata, sehat juga adalah ujian.

Dan mungkin, justru itulah ujian yang sering kali tidak kita sadari.