Top
  >  Culinary   >  Mencicipi Ayam Semar Pandawa, Kuliner Legendaris Bandung Sejak 1983

Saya mengetahui tempat ini dari seorang teman yang pernah umrah. Katanya, ayamnya enak dan sambalnya enak. Karena penasaran, saya pun datang untuk mencobanya.

Ayam Semar Pandawa disebut sudah berjualan sejak 1983. Perjalanannya dimulai dari kaki lima yang berpindah-pindah, hingga akhirnya memiliki tempat menetap di Gang Pandawa pada 2012.

Di tengah perkembangan Bandung yang terus berubah, tempat makan seperti ini memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena makanannya, tetapi juga karena cerita panjang yang menyertainya.

Saya memesan ayam goreng sebagai menu utama.

Ketika mencicipinya, kesan pertama saya adalah rasa gurih dengan sentuhan manis. Perpaduan ini cukup terasa dan menjadi karakter yang saya nikmati dari ayam tersebut.

Saya termasuk orang yang senang dengan makanan yang memiliki rasa bumbu cukup kuat, tetapi tetap nyaman disantap bersama nasi.

Saya memang belum mencoba ayam bakarnya, sehingga belum bisa membandingkan rasa ayam goreng dan ayam bakar di tempat ini. Namun, untuk ayam goreng yang saya pesan, rasanya cukup memuaskan.

Menurut saya, sambal di sini lebih cocok untuk pencinta sambal yang menyukai rasa agak manis dan tidak terlalu pedas.

Bagi yang terbiasa dengan sambal superpedas sampai membuat keringat bercucuran, mungkin sambal ini terasa lebih bersahabat.

Namun, justru di situlah letak daya tariknya.

Rasa manisnya cukup terasa, sehingga cocok dipadukan dengan ayam goreng yang gurih. Sambal ini tidak harus membuat lidah terbakar untuk bisa dinikmati.

Selain menu utama, saya juga memperhatikan nasinya.

Nasi disajikan dalam bentuk kotak yang cukup rapi. Bentuknya sederhana, tetapi memberikan kesan tersendiri ketika berada di piring bersama ayam goreng dan pelengkap lainnya.

Teksturnya pulen. Ini menjadi nilai tambah bagi saya karena nasi yang pulen memang cocok disantap bersama ayam goreng dan sambal.

Ada hal sederhana yang terkadang menentukan kenyamanan makan: nasi yang sesuai selera.

Ayam bisa enak, sambal bisa menarik, tetapi kalau nasinya kurang cocok, pengalaman makan bisa terasa tidak lengkap.

Selain ayam goreng, saya juga mencoba tahu Yun Yi, tempe, dan perkedel.

Tahu Yun Yi menjadi salah satu pelengkap yang saya pesan. Tahu seperti ini cocok bagi saya yang senang menambahkan lauk pendamping ketika makan ayam.

Untuk tempenya, saya merasakan rasa yang agak manis. Cita rasa ini cukup sesuai dengan karakter makanan yang saya nikmati malam itu.

Sementara itu, perkedelnya menurut saya memiliki rasa yang cukup umum, seperti perkedel yang biasa disajikan di restoran pada umumnya.

Setelah menikmati makanan di Ayam Semar Pandawa, saya kembali memikirkan satu hal.

Di Bandung, tempat makan baru terus bermunculan. Ada restoran dengan konsep unik, kafe dengan desain menarik, dan kuliner yang ramai dibicarakan di media sosial.

Namun, warung seperti Semar Pandawa memiliki cerita yang berbeda.

Ia sudah hadir sejak 1982. Perjalanan panjang itu tentu menjadi bagian dari identitasnya.

Bagi saya, istilah legendaris bukan hanya tentang usia sebuah warung.

Legendaris adalah ketika sebuah tempat mampu bertahan, tetap dicari, dan masih memberikan pengalaman makan yang membuat orang ingin kembali.